Ada Apa dengan Bulan Muharram? (Pembahasan Bulan Muharram)

YUK SHARE:

Keutamaan Bulan Muharram, Hukum mengucapkan selamat tahun baru hijriyah

Ada Apa dengan Bulan Muharram?


KEUTAMAAN BULAN MUHARRAM

................................................

Muharram termasuk salah satu dari empat Bulan Haram (bulan-bulan yang memiliki kehormatan lebih dibandingkan bulan-bulan yang lainnya) dalam Islam yang termaktub dalam Al-Qur’an (yang artinya),

“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya EMPAT BULAN HARAM.” (QS. At-Taubah: 36)

Keempat bulan itu adalah:
 Muharram,
 Rajab,
 Dzulqo’dah, dan
 Dzulhijjah,
sebagaimana yang dideklarasikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada saat haji perpisahan.

Disebut Bulan Haram karena ia mengandung kemuliaan lebih (dari bulan-bulan lainnya) dan karena pada bulan-bulan ini diharamkan untuk berperang. (Tafsir As-Sa’di, hlm.192)

Cukuplah menunjukkan kemuliaan bulan Muharram ini ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjulukinya sebagai bulan Allah , beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah berpuasa di bulan Allah, bulan Muharram.” (HR. Muslim, no.1982 dari shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Kata para ulama’, segala sesuatu yang disandarkan kepada Allah ‘Azza wa Jalla itu memiliki kemuliaan lebih daripada yang tidak disandarkan kepada-Nya, seperti baitullah (rumah Allah), Rasulullah (utusan Allah), dan lain-lain.

Dalam Islam, bulan Muharram memiliki nilai historis (sejarah) yang luar biasa;
pada bulan ini, tepatnya pada tanggal sepuluh, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkan Nabi Musa ‘alaihis salam dan kaumnya dari kejaran Fir’aun dan bala tentaranya serta menenggelamkan mereka di laut merah.

Di bulan ini juga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertekad kuat untuk berhijrah ke negeri Madinah, setelah mendengar bahwa penduduknya siap berjanji setia membela dakwah beliau. Walaupun tekad kuat beliau ini baru bisa terealisasi pada bulan Shafar.

Selain itu, di bulan ini terdapat ibadah puasa yang dikatakan oleh RasulullahShallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai puasa terbaik setelah Ramadhan sebagaimana hadits di atas.

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda ketika ditanya tentang keutamaannya: “Menghapuskan dosa-dosa tahun yang lalu.” (HR. Muslim, no.1977 dari shahabat Abu Qotadah Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu)

sumber : http://manhajul-anbiya.net


-----------------

BULAN MUHARRAM BUKAN BULAN SIAL


Sebagian orang meyakini bulan Muharram sebagai bulan keramat yang tidak boleh dibuat acara dan bersenang-senang, sehingga banyak aktivitas tertentu yang ditunda atau bahkan dibatalkan. Lebih dari itu, mereka meyakini siapa yang mengadakan hajatan pada bulan ini akan ditimpa musibah dan malapetaka. Sebagai contoh adalah pernikahan, mereka enggan menikahkan putra putrinya di bulan ini karena khawatir ditimpa petaka dan kesengsaraan bagi kedua mempelai.

Ketika ditanya mengenai alasan mereka menilai bulan Muharram sebagai bulan keramat nan penuh pantangan, tidak ada jawaban berarti dari mereka, selain ’Beginilah tradisi kami’ atau ’Beginilah yang diajarkan bapak-bapak kami’.

Sikap mengikuti tradisi atau leluhur tanpa bimbingan Islam adalah terlarang, bahkan sikap seperti ini termasuk sifat orang-orang jahiliyah dan penyembah berhala pada masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan nabi-nabi sebelumnya. Allah ‘Azza wa Jalla menyebutkan di dalam Al-Qur’an tentang jawaban orang-orang Quraisy ketika diajak oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meninggalkan kesyirikan, kata mereka (yang artinya),

“Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak (nenek moyang) kami menganut suatu agama (bukan agama yang engkau bawa –pent), dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan (mengikuti) jejak mereka.” (QS. Az-Zukhruf: 22)

Demikian pula Fir’aun, ketika diajak oleh Nabi Musa ‘alaihis salam agar beriman kepada Allah ‘Azza wa Jalla, ia malah berkata (yang artinya,

“Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari apa yang kami dapati nenek moyang kami mengerjakannya.” (QS. Yunus: 78)

Kemudian, anggapan sial untuk melakukan aktivitas tertentu, seperti hajatan dan semisalnya di bulan Muharram yang diyakini oleh keumuman masyarakat Jawa, dalam ajaran Islam disebut Tathoyyur atau Thiyaroh, yaitu meyakini suatu keburuntungan atau kesialan didasarkan pada kejadian, tempat, atau waktu tertentu.

Anggapan seperti ini sebenarnya sudah ada sejak zaman jahiliyah. Setelah Islam datang, maka ia dikategorikan ke dalam perbuatan syirik yang harus ditinggalkan. Allah Subhanahu wa Ta’ala  berfirman (Artinya): ”Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS. Al-A’raf: 131)

Dalil yang menunjukkan bahwa Tathoyyur atau Thiyaroh termasuk kesyirikan adalah sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Thiyaroh adalah kesyirikan”, beliau mengulangnya sebanyak tiga kali.” (HR. Ahmad danAbu Daud, dari shahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu 'anhu)

Apabila kita telah mengetahui bahwa anggapan sial atau keberuntungan seperti itu termasuk kesyirikan, maka kewajiban kita selanjutnya adalah menjauhinya dan menjauhkannya dari anak dan istri kita dari keyakinan tersebut. Sehingga kita beserta keluarga kita tidak terjerembab kedalam kubangan dosa besar yang paling besar, yaitu dosa syirik.

-----------------

WASPADA SYI'AH


Orang-orang syi’ah menjadikan bulan Muharram sebagai hari-hari berkabung. Pada setiap tanggal 10 Muharram, orang-orang syi’ah di Iran mengadakan pawai akbar untuk memperingati hari terbunuhnya cucu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Husein bin Aliradhiyallahu ‘anhu di padang Karbala.

Acara rutin mereka tersebut dimulai sejak tanggal 1 sampai tanggal 10 Muharram. Pada tanggal 1 Muharram sampai tanggal 9 Muharram mereka mengadakan pawai besar-besaran di jalan-jalan menuju Al-Huseiniyah. Al-Huseiniyah adalah tempat ibadah syi’ah, akan tetapi biasanya Al-Huseiniyyah digunakan untuk makam Imam, bukan untuk melaksanakan shalat. Sedangkan shalat dilakukan di luar bangunan. Penamaan ini diambil dari nama Husein bin Ali radhiyallahu ‘anhu.

Peserta pawai hanya mengenakan celana atau sarung saja sedangkan badannya terbuka. Selama pawai, mereka memukul-mukul dada dan punggungnya dengan rantai besi sehingga meninggalkan bekas (luka memar) yang mencolok.

Kemudian, pada acara puncak, mereka mengenakan kain berwarna putih dan ikat kepala berwarna putih pula. Setelah itu, mereka menghantamkan pedang, pisau, atau benda tajam lainnya ke kepala dan dahi mereka sehingga darah pun bercucuran. Darah yang mengalir ke kain putih membuat suasana semakin mencekam, bahkan tak sedikit di antara mereka yang menangis histeris.

Demikianlah gambaran ringkas tentang berkabungnya orang-orang syi’ah di Iran pada bulan Muharram. Seperti yang telah kami sebutkan, tujuan utama mereka adalah untuk mengenang terbunuhnya Husein bin Ali radhiyallahu ‘anhu.

Sebagai seorang muslim tentu kita juga sangat bersedih dengan peristiwa tragis nan menyayat hati yang menimpa cucu RasulullahShallallahu ‘alaihi wa sallam itu. Namun, Islam melarang pemeluknya yang tertimpa musibah untuk berucap atau berbuat sesuatu yang menunjukkan ketidak-ridhaan kepada keputusan Allah, seperti, merobek baju, menampar pipi, menjambak rambut, menangis histeris, apalagi menyayat kepala dan dahi seperti yang dilakukan sebagian orang-orang syi’ah.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bukan dari golongan kami barang siapa yang menampar pipi, merobek baju, atau meratap dengan ratapan jahiliyah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari shahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu)

Lebih dari itu, bagi wanita yang meratapi mayit dan meninggal dalam keadaan belum bertaubat, maka ia akan dibangkitkan pada hari kiamat dengan pakaian dari tembaga yang meleleh, sebagaimana dijelaskan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam haditsnya yang diriwayatkan Al-Imam Muslim dari Abu Malik Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu.

Maka sekarang kita telah mengetahui bahwa apa yang dilakukan orang-orang syi’ah tersebut bukan hanya tidak ada dasarnya dalam Islam, bahkan ia bertolak belakang dengan ajaran Islam.

Para pembaca rahimakumullah, peringatan 10 Muharram oleh orang-orang syi’ah, untuk mengenang terbunuhnya shahabat Husein radhiyallahu ‘anhu tidak hanya diadakan di Iran saja, tetapi juga di negara-negara lainnya, seperti India, Pakistan, Lebanon, dan juga Indonesia, hanya saja tata caranya berbeda.

Di Indonesia, misalnya, sudah menjadi acara rutin tahunan bagi syi’ah mengadakan acara ini yang mereka istilahkan dengan haul arba’in-an, yaitu mengenang 40 hari syahidnya shahabat Husein radhiyallahu ‘anhu.

Para pembaca rahimakumullah, maka jangan tertipu dengan perbuatan-perbuatan orang-orang syi’ah seperti contoh di atas. Karena tujuan mereka melakukan hal itu untuk menarik dan memikat hati kaum muslimin agar tertarik dan membela mereka. Demikian pula perbuatan mereka itu sama sekali bukan bagian dari Islam.

-----------------


Seputar pesan yang disebarkan melalui SMS, WhatsApp, Facebook, e-mail, ataupun situs-situs internet semisal :
"Bersemangatlah untuk menutup lembaran akhir tahun anda dengan Istighfar, taubat, dan amalan shalih"  atau yang kalimat-kalimat semacam ini.



Pesan-pesan semacam ini DIHARAMKAN bagi seorang Muslim untuk saling menukilkan dan menyebarkannya kepada umat. Hal ini karena 3 perkara :

Di dalamnya terdapat ajakan untuk mengkhususkan akhir tahun dengan ibadah tertentu. Pengkhususan akhir tahun dengan ibadah tertentu yang tidak ada bimbingannya di dalam Al-Quran ataupun As-Sunnah an-Nabawiyah. Tidak pula didapati keterangan para Ulama untuk melakukannya. Maka berdasarkan hal ini, tindakan menyebarkannya merupakan BID’AH yang diharamkan, dan pesan semisal ini merupakan ajakan untuk menghidupkan bid’ah serta menyebarkannya ditengah-tengah umat.

Ucapan tentang “Tertutupnya lembaran amalan di setiap akhir tahun”, maka orang yang mengucapkannya dituntut mendatangkan dalil dari Al-Quran ataupun As-Sunnah. Karena tertutupnya kitab catatan amal termasuk perkara ghaib, maka mana dalil atas ucapan tersebut sampai orang-orang termotivasi untuk bersegera dan bergegas di dalam menyebarkannya tanpa croschek, atau dikoreksi, tanpa ada muroqobah (merasa diawasi oleh Allah Ta’ala) dan rasa takut kepada Allah Jalla Jalaluhu. Kemudian, jika kalender Hijriyah ditetapkan di masa Khilafah Umar radhiyallahu ‘anhu, -wahai kalian orang-orang yang melihat- lalu kapan ditutupnya lembaran amalan hamba sebelum ditetapkannya kalender Hijriyah tersebut?

Sudah menjadi ketetapan bagi para Ulama bahwasannya tertutupnya lembaran amalan hamba hanya ketika dia telah meninggal. Amalannya entah baik ataukah buruk akan terus tertulis sampai ajal menjemputnya.

dari Khutbah asy-Syaikh 'Abdul Qadir al-Junaid

-----------------

KEZHALIMAN PADA BULAN HARAM

Waspadalah kalian – semoga Allah menyelamatkan dan meluruskan jalan kalian – dari perbuatan zhalim terhadap diri kalian pada bulan Muharram tersebut dan 3 bulan haram lainnya, yaitu berupa amalan kejelekan, dosa, kemaksiatan, kesyirikan, kebid’ahan, kesesatan, kefasikan, perbuatan keji, kezhaliman, permusuhan, penipuan, berdusta, ghibah, namimah (adu domba), kedengkian dan hasad. Sesungguhnya Allah melarang kalian dari semua perbuatan tersebut.  Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

Artinya : “Sesungguhnya jumlah bilangan bulan di sisi Allah adalah 12 bulan, diantaranya adalah 4 bulan haram. Itulah agama yang lurus. Maka jangan kalian zhalimi diri kalian sendiri pada bulan-bulan tersebut”

Sesungguhnya amalan kejelekan baik berupa kebid’ahan ataupun kemaksiatan akan semakin besar dosanya jika dilakukan pada waktu dan tempat yang memiliki keutamaan di dalam syariat ini. Sebagaimana atsar yang sah dari Qatadah bin Di’amah rahimahullah , beliau berkata :

“Sesungguhnya kezhaliman yang dilakukan pada bulan haram LEBIH BESAR DOSANYA daripada yang dilakukan pada bulan-bulan selainnya ”

dari Khutbah asy-Syaikh 'Abdul Qadir al-Junaid

-----------------


Awal Diberlakukannya Kalender Hijriyah



Al-Imam Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan :

“Kalender Tahunan BELUM diberlakukan ketika pada awal kedatangan Islam.  Barulah dimulai di masa Khilafah ‘Umar bin al-Khattab radhiyallahu ‘anhuketika meluasnya wilayah kekuasaan Islam, dan kaum muslimin membutuhkan kalender untuk dalam urusan-urusan mereka. Maka pada tahun ketiga atau keempat masa pemerintahan beliau, datang sepucuk surat dari sahabat Abu Musa al-‘Asy’ariy radhiyallahu ‘anhu.  Dia berkata dalam suratnya : “Telah sampai kepada kami surat-surat dari Anda yang tidak dibubuhi tanggal”.

Maka Khalifah Umar pun mengumpulkan para sahabat  kemudian bermusyawarah bersama mereka.

Sebaian mereka ada yang berkata : “Bubuhkanlah tanggal sebagaimana orang Persia ketika mengirim surat kepada raja mereka. Setiap kali pemimpin meninggal, mereka memperbaharui kalender dengan pemerintah yang setelahnya”, Namun para sahabat tidak menyukai pendapat tersebut.

Sebagian yang lain memberikan usul : “Pakai saja kalender kerajaan Romawi”, merekapun juga tidak menyukainya.

Sebagian lainnya berkata : “Mulailah penanggalan dengan hari kelahiran Nabi Salallahu ‘alaihi wa sallam”

Yang lainnya menimpali : “Mulai dari hari diutusnya beliau”

Lainnya berkata : “Sejak hari Hijrahnya beliau”

Umar pun berkata : “Hijrah merupakan pemisah antara al-Haq dan al-Batil maka, mulailah penanggalan dari hari tersebut” mereka semua akhirnya sepakat dengan keputusan Umar tersebut.

Kemudian mereka memusyawarahkan bulan yang dijadikan permulaan tahun.

Ada yang berkata: “Mulai dari bulan Ramadhan saja, karena bulan tersebut adalah bulan diturunkannya Al Qur’an”

Ada yang berkata : “(Mulailah) dari Rabi’ al-Awal karena bulan itu adalah waktu tibanya Rasulullah Salallahu ‘alaihi wa sallam di Madinah pada perjalanan Hijrah (dari Makkah)”

Umar, Utsman, dan ‘Ali radhiyallahu ‘anhum akhirnya memilih bulan Muharram karena itulah bulan Haram setelah Dzulhijjah bulan yang padanya kaum Muslimin menunaikan haji yang dengan menunaikannya (terwujudlah) sempurnalah rukun Islam. Di bulan Dzulhijjah pula berlangsungnya baiat kaum Anshar kepada Rasulullah salallahu ‘alaihi wa sallam dan bertekad untuk berhijrah. Maka, jadilah permulaan tahun Hijriyah Islamiyah di mulai dari bulan mulia Muharram.


dari Khutbah asy-Syaikh 'Abdul Qadir al-Junaid

sumber : http://manhajul-anbiya.net

---------------

Beberapa Perkara Haram yang dilakukan manusia Menjelang atau Tibanya Tahun Baru Hijriyah

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

Perkara Haram lainnya :

Pengkhususan hari Jumat terakhir di setiap tahun dengan tambahan amalan ibadah dan ketaatan. Begitupula pengkhususan dengan dipanjatkan doa tertentu yang biasa disebut dengan DO’A PENUTUP TAHUN atau DO’A PEMBUKAAN TAHUN. Do’a tersebut dipanjatkan pada sujud terakhir atau setelah ruku’ di shalat terakhir di penghujung tahun atau shalat pertama yang ditunaikan di Tahun Baru. Atau terkadang dipanjatkan di tempat-tempat diadakannya peringatan hari Hijrah Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam tersebut dan disebarluaskan oleh orang-orang bodoh melalui SMS, WhatsApp, Facebook, e-mail, atau situs-situs internet.

Tidak diragukan lagi keharaman pengkhususan tersebut, karena pengkhususan itu tidak disebutkan sedikitpun tuntunannya baik dari Al-Quran maupun dari As-Sunnah an-Nabawiyah, tidak pula dilakukan oleh Salaf –utamanya para Shahabat radhiyallahu ‘anhum- tidak pula diajarkan oleh para Ulama Madzhab yang 4 atau para Ulama Ahli Fiqih dan Ahli Hadits lainnya di zaman mereka.

Jika amalan tersebut dicintai oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya Shalallahu ‘alaihi wa sallam, atau baik bagi seorang muslim untuk melakukannya, atau dijanjikan ganjaran pahala baginya, niscaya mereka adalah orang-orang di baris terdepan dalam mengamalkan dan mendakwahkannya.

dari Khutbah asy-Syaikh 'Abdul Qadir al-Junaid

;sumber : http://manhajul-anbiya.net

••••••••••••••••
Majmu'ah Manhajul Anbiya

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

HARUSKAH MEMPERHATIKAN KAPAN MASUKNYA BULAN MUHARRAM?

Asy-Syaikh 'Abdul 'Aziz bin 'Abdillah bin Baz rahimahullah

..........................................

Tanya : Kaum muslimin banyak yang berpuasa hari Asyura dan mereka bersiap diri untuk berpuasa pada hari tersebut,  karena mendengar anjuran dan dorongan untuk melaksanakannya.
Namun kenapa umat tidak dianjurkan untuk memperhatikan Hilal bulan Muharram,  supaya kaum muslimin mengetahuinya dengan adanya siaran atau disebarkan lewat media-media massa? "

Jawab :
"Shaum (Puasa)  hari Asyura adalah sunnah,  sangat disukai berpuasa pada hari itu. Nabi shallallahu alaihi wa sallam berpuasa pada hari itu,  demikian juga para shahabat,  dan sebelum itu Nabi Musa alaihis salam juga berpuasa padanya dalam rangka bersyukur kepada Allah 'Azza wa Jalla.  .....

Adapun memperhatikan penentuan kapan malam Asyura,  maka ini adalah perkara yang TIDAK HARUS. Karena puasa Asyura adalah nafilah,  bukan fardhu.  Sehingga tidak harus ada ajakan untuk memperhatikan Hilal.
Karena seorang mukmin kalaupun dia salah (dalam menentukannya), sehingga dia berpuasa sehari setelahnya atau sehari sebelumnya, maka itu tidak mengapa. Dia tetap mendapat pahala besar.

Oleh karena itu TIDAK WAJIB memperhatikan kapan masuknya bulan (Muharram)  dalam rangka itu (Asyura), karena itu merupakan ibadah nafilah saja.


.......................................

السؤال : يصوم كثير من المسلمين يوم عاشوراء ويهتمون بصيامه لما يسمعونه من الدعاة في الحث عليه والترغيب فيه، فلماذا لا يوجه الناس لتحري هلال محرم حتى يعرف المسلمون ذلك بعد إذاعته أو نشره في وسائل الإعلام؟

الجواب : صيام يوم عاشوراء سنة يستحب صيامه؛ صامه النبي صلى الله عليه وسلم وصامه الصحابة وصامه موسى قبل ذلك شكراً لله عز وجل؛ .....

 أما تحري ليلة عاشوراء فهذا أمر ليس باللازم؛ لأنه نفل ليس بالفريضة، فلا يلزم الدعوة إلى تحري الهلال؛ لأن المؤمن لو أخطأه فصام بعده يوماً وقبله يوماً لا يضره ذلك، وهو على أجر عظيم. ولهذا لا يجب الاعتناء بدخول الشهر من أجل ذلك؛ لأنه نافلة فقط.

(dinukil dengan ada yang diringkas dari
 http://www.binbaz.org.sa/node/615

•••••••••••••••••••••
Majmu'ah Manhajul Anbiya

~~~~~~~~~~~~~~~~~~


BARANGSIAPA BERPUASA HARI KESEPULUH DARI BULAN MUHARRAM SAJA APAKAH DIA MENDAPATKAN PAHALA PUASA ASYURAA?

————————————————
Fadhilatus syaikh Ibnu Al-'Utsaimin رحمه الله تعالى :


PERTANYAAN:

Apakah cukup seorang muslim berpuasa di hari kesepuluh saja dari bulan Al-Muharram hingga dihapuskan dari (dosa)nya satu tahun sempurna?

JAWABAN:

Yang dimaksud Asyuraa ialah hari kesepuluh dari bulan Al-Muharram, apabila seorang insan berpuasa maka Nabi ﷺ telah memberitahukan bahwa puasa tersebut menghapus (dosa) satu tahun yang sebelumnya,

akan tetapi yang afdhol ialah tidak menyendirikannya dengan puasa. Akan tetapi berpuasa satu hari sebelumnya atau satu hari setelahnya.
                —○●※●○—


Silsilah Liqoat Al-Bab Al-Maftuh > Liqo Al-Bab Al-Maftuh [231].

Audio dapat didengar di:
http://zadgroup.net/bnothemen/upload/ftawamp3/od_231_04.mp3
————————————————
من صام اليوم العاشر من محرم فقط هل يحصل له أجر صيام عاشوراء ؟


; السؤال :

هل يكفي أن يصوم المسلم العاشر فقط من المحرم حتى تكفر عنه سنة كاملة؟

&128315;الجواب :

يعني عاشوراء: وهو العاشر من شهر المحرم، إذا صامه الإنسان فقد أخبر النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم أنه يكفر السنة التي قبله، لكن الأفضل ألا يفرده بصوم. بل يصوم يوماً قبله أو يوماً بعده.


المصدر: سلسلة لقاءات الباب المفتوح > لقاء الباب المفتوح [231]


الصيام > صوم التطوع


&128259; رابط المقطع الصوتي

http://zadgroup.net/bnothemen/upload/ftawamp3/od_231_04.mp3

✏__ Alih Bahasa: Muhammad Sholehuddin Abu 'Abduh عَفَا اللّٰهُ عَنْهُ.
————————————————
&127759; WA Ahlus Sunnah Karawang | www.ahlussunnahkarawang.com


○●○●○●○


PROBLEM TENTANG PUASA ASYURAA DAN JAWABANNYA.

Fadhilatus syaikh Ibnu Al-'Utsaimin رحمه الله تعالى :

PERTANYAAN:

Fadhilatus syaikh: satu persoalan yang menjadi problem bagi saya yaitu bahwa adanya orang yang mengatakan: sesungguhnya hari Asyuraa tidaklah benar (adanya), karena yahudi dan nashrani mereka memakai kalender dengan penanggalan masehi, dan Anda tahu wahai fadhilatus syaikh bahwa disana ada perbedaan antara kedua penanggalan sekira 10 hari, maka berdasarkan pemikiran mereka dan ucapan mereka ini tentulah terjadinya kemunduran hari Asyuraa pada setiap tahunnya 10 hari.

Kami mengharapkan uraian masalah dalam dua keadaan ini.

JAWABAN:

Jika ini merupakan kegilaan maka ini adalah suatu yang gila, bukankah kita hanya dituntut kecuali pada hari kesepuluh dari bulan Muharram? Dituntut dengan kesepuluh dari bulan Muharram, bagaimana adanya perbedaan?

yakni: tahun ini kita berpuasa sepuluh hari, dan tahun kedua dua puluh hari, dan ketiga tiga puluh, dan keempat hari kesepuluh dari bulan Shofar, dan terus begitu selanjutnya; apakah disana ada seorang pun yang mengatakan demikian?!

Saya katakan: sesungguhnya hari Asyuraa telah diketahui, TIDAK ADA MASALAH PADANYA, akan tetapi yang menjadi masalah ialah: apakah telah muncul hilal (bulan sabit) Muharram pada hari ketiga puluh dari bulan Dzulhijjah atau pada malam tiga puluh satu?

Ini yang terjadi problem padanya, maka apa yang akan kita lakukan jika kita ragu bahwa hilal Muharram muncul pada malam tiga puluh Dzulhijjah sehingga bulan Dzulhijjah menjadi berkurang, atau kita katakan: telah muncul hilal pada malam tiga puluh satu sehingga menjadi sempurna?

Jalannya jelas -walhamdulillah-: jika kita telah melihat hilal pada malam ketiga puluh maka kita anggap bulan Dzulhijjah ganjil, dan jika kita tidak melihatnya maka yang wajib ialah menggenapkan bulan Dzulhijjah menjadi tiga puluh, dan oleh karenanya sekarang pada tahun ini kalender dibuat bulan Dzulhijjah menjadi dua puluh sembilan, dan masuk bulan Muharram pada hari Rabu,

maka berdasarkan perhitungan ini sehingga hari Kamis adalah hari kesembilan dan jumat adalah hari kesepuluh,

akan tetapi berdasarkan rukyat dan berdasarkan syariat belum masuk bulan Muharram kecuali pada hari Kamis, sehingga hari kesembilan terjadi pada hari Jumat dan hari kesepuluh pada hari Sabtu.
                —○●※●○—

Silsilah Al-Liqo As-Syahri > Al-Liqo As-Syahri [45].

Audio dapat didengar di:

————————————————
إشكال في صوم عاشوراء والجواب عنه

السؤال:

فضيلة الشيخ: أمر أشكل عليَّ وهو أن من الناس من يقول: إن يوم عاشوراء غير ثابت، فاليهود والنصارى يؤرخون بالتاريخ الميلادي، وتعلمون يا فضيلة الشيخ أن هناك فرقاً بين التاريخين عشرة أيام، فعلى تفكيرهم وقولهم هذا لا بد من تأخير عاشوراء في كل سنة عشرة أيام.

نرجو التفصيل في كلا الحالين.

الجواب:

إن كان جنون فهذا جنون، هل نحن مطالبون إلا بعاشر من محرم؟ مطالبون بعاشر محرم، كيف الاختلاف؟ يعني: هذه السنة نصوم عشرة، والسنة الثانية عشرين، والثالثة ثلاثين، والرابعة عاشر من صفر، وهلم جراَ هل هناك أحد يقول هذا؟! أقول: إن عاشوراء معلوم، ما فيه إشاكلٌ، لكن الإشكال: هل هلَّ هلال محرم في ثلاثين من ذي الحجة أو في ليلة واحد وثلاثين؟ هذا الذي يقع الإشكال فيه، فماذا نعمل إذا شككنا أن هلال محرم ليلة الثلاثين من ذي الحجة فيكون شهر ذي الحجة ناقصاً، أو نقول: هلَّ في الحادي والثلاثين فيكون تاماً؟ الطريق بين -والحمد لله-: إن رأيناه ليلة الثلاثين اعتبرنا ذا الحجة ناقصاً، وإن لم نره فالواجب إكمال ذي الحجة ثلاثين، ولذلك الآن هذه السنة التقويم جعل ذا الحجة تسعاً وعشرين، وأدخل المحرم في الأربعاء، فعلى هذا التقدير يكون الخميس هو التاسع والجمعة هي العاشر، لكن حسب الرؤية وحسب الشرع لم يدخل شهر محرم إلا في الخميس، فيكون التاسع يوم الجمعة والعاشر يوم السبت.


المصدر: سلسلة اللقاء الشهري > اللقاء الشهري [45]


الصيام > صوم التطوع


رابط المقطع الصوتي
http://zadgroup.net/bnothemen/upload/ftawamp3/mm_045_19.mp3

✏__ Alih Bahasa: Muhammad Sholehuddin Abu 'Abduh عَفَا اللّٰهُ عَنْهُ.
————————————————
&127759; WA Ahlus Sunnah Karawang | www.ahlussunnahkarawang.com

KOMENTAR

BLOGGER
Nama

Adab-Akhlak,125,Akhirat,12,Akhwat,86,Aqidah,217,Arab Saudi,15,Asma wa Shifat,1,Audio,31,Bantahan,90,Bid'ah,40,Biografi,29,Cerita,15,Cinta,8,Dakwah,17,Doa Dzikir,29,Ebook,7,Fadhilah,49,Faedah Ringkas,17,Fiqih,221,Ghaib,11,Hadits,99,Haji-Umroh,10,Hari Jumat,29,Hari Raya,3,Ibadah,49,Info,76,Inspiratif,26,IT,11,Janaiz,6,Kata Mutiara,123,Keluarga,127,Khawarij,22,Kisah,114,Kontemporer,110,Manhaj,120,Muamalah,37,Nabi,8,Nasehat,370,Poster,6,Puasa,41,Qurban,16,Ramadhan,27,Rekaman,1,Remaja,103,Renungan,23,Ringkasan,89,Sahabat,30,Sehat,26,Sejarah,18,Shalat,105,Syiah,26,Syirik,2,Tafsir,25,Tanya Jawab,435,Tauhid,19,Tazkiyatun Nafs,65,Teman,12,Thaharah,13,Thallabul Ilmi,83,Tweet Ulama,6,Ulama,28,Ustadz Menjawab,4,Video,9,Zakat,3,
ltr
item
Atsar ID | Arsip Fawaid Salafy: Ada Apa dengan Bulan Muharram? (Pembahasan Bulan Muharram)
Ada Apa dengan Bulan Muharram? (Pembahasan Bulan Muharram)
Keutamaan Bulan Muharram, Hukum mengucapkan selamat tahun baru hijriyah
http://4.bp.blogspot.com/-uLtxDk9ua1I/Vh2-14-lweI/AAAAAAAAEY0/WJoO9IkszJo/s320/keutamaan-bulan-muharram.jpg
http://4.bp.blogspot.com/-uLtxDk9ua1I/Vh2-14-lweI/AAAAAAAAEY0/WJoO9IkszJo/s72-c/keutamaan-bulan-muharram.jpg
Atsar ID | Arsip Fawaid Salafy
http://www.atsar.id/2015/10/ada-apa-dengan-bulan-muharram-keutamaan.html
http://www.atsar.id/
http://www.atsar.id/
http://www.atsar.id/2015/10/ada-apa-dengan-bulan-muharram-keutamaan.html
true
5378972177409243253
UTF-8
Loaded All Posts Qodarullah, post tidak ditemukan... LIHAT SEMUA Selengkapnya Balas Batal balas Hapus Oleh Beranda HALAMAN ARTIKEL Lihat Semua BACA LAGI AH... LABEL ARSIP SEARCH SEMUA ARTIKEL Qodarullah, artikel yang antum cari tidak ditemukan ! Ke Beranda Ahad Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Ahad Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nov Des baru saja 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago lebih dari 5 pekan yang lalu Pengikut Ikuti THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy