Kriteria Hadits Hasan (Syarah Mandzumah al Baiquniyah)

SHARE:

Kriteria dan Syarat Hadits Hasan, Perbedaan Hadits Shahih dengan Hadits Hasan.

Kriteria / Syarat-syarat Hadits Hasan

Kriteria Hadits Hasan
Matan Mandzhumah al-Baiquniyyah:

٥ – وَالْحَسَنُ الْمَعْرُوفُ طُرْقاً وَغَدَتْ … رِجَالُهُ لاَ كَالصَّحِيحِ اشْتَهَرَتْ

Dan (hadits) hasan adalah yang dikenal jalur periwayatannya dan masyhur…(namun) para perawinya tidak seperti (dalam hadits) shahih (dalam kekokohan)

Penjelasan:

Persyaratan hadits hasan sama dengan hadits shahih, kecuali dalam satu hal yaitu status kekokohan perawi (dhobth) dalam meriwayatkan. Kekokohan perawinya dalam mata rantai sanad berada di bawah hadits shahih, namun masih bisa diterima. Status perawi hasan setidaknya ada satu perawi yang dalam kategori di bawah tsiqoh, seperti shoduq, Laa ba’sa bihi, hasanul hadits, dan semisalnya.

Pembagian Hadits Berdasarkan Diterima Atau Ditolak

Hadits yang bisa diterima: diamalkan dan diyakini adalah hadits yang shahih atau hasan. Tingkatan hadits shahih berada di atas hadits hasan.

Sedangkan hadits yang tidak bisa diterima dan tidak bisa dijadikan sebagai hujjah adalah hadits yang lemah (dhaif), palsu (maudhu’), maupun Laa Ashla Lahu (tidak ada asalnya atau tidak memiliki sanad riwayat).

Pembagian Hadits Shahih dan Hasan

Hadits shahih terbagi menjadi:
  1. Shahih li dzatihi : jalur riwayat tersebut memang shahih tanpa perlu adanya jalur penguat.
  2. Shahih li ghoirihi : beberapa jalur riwayat yang hasan maupun ada yang lemah, namun jika digabungkan bisa saling menguatkan dan naik ke derajat shahih
Sedangkan hadits hasan, terbagi menjadi:
  1. Hasan li dzatihi : jalur riwayat tersebut memang hasan tanpa perlu adanya jalur penguat.
  2. Hasan li ghoirihi : beberapa jalur riwayat yang dhaif (lemah), namun saling menguatkan sehingga naik ke derajat hasan. Hal ini jika kelemahannya ringan.

Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqolaaniy rahimahullah menyatakan:

وخبر الآحاد بِنَقْلِ عَدْلٍ تَامِّ الضَّبْطِ ، مُتَّصِلَ السَّنَدِ ، غَيْرَ مُعَلَّلٍ وَلا شَاذٍّ ، هُوَ الصَّحِيحُ لِذَاتِهِ . وَتَتَفَاوَتُ رُتَبُهُ بِتَفَاوُتِ هَذِهِ الأوْصَافِ ، وَمِنْ ثَمَّ قُدِّمَ صَحِيحُ البُخَارِيِّ ، ثُمَّ مُسْلِمٌ ، ثُمَّ شُرُوطُهُمَا فَإِنْ خَفَّ الضَّبْطُ ، فَالْحَسَنُ لِذَاتِهِ ، وَبِكَثْرَةِ طُرُقِهِ يُصَحَّحُ

Khabar Aahad dengan penukilan dari (para perawi) yang adil dan sempurna kekokohan periwayatannya, sanadnya bersambung, tanpa illat dan tidak syadz, itu adalah shahih li dzatihi. Tingkatannya berbeda-beda sesuai perbedaan sifat-sifat ini. Atas dasar hal itu, (hadits-hadits) dalam Shahih al-Bukhari paling diutamakan, kemudian (Shahih) Muslim, kemudian yang sesuai syarat keduanya. Jika ringan kekokohan dalam periwayatan, maka itu adalah hasan li dzatihi. Jika jalur periwayatannya banyak, bisa menjadi shahih (Nukhbatul Fikar karya Ibnu Hajar al-Asqolaaniy)

Contoh Hadits Hasan

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي عَدِيٍّ عَنْ مُحَمَّدٍ يَعْنِي ابْنَ عَمْرٍو قَالَ حَدَّثَنِي ابْنُ شِهَابٍ عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ فَاطِمَةَ بِنْتِ أَبِي حُبَيْشٍ أَنَّهَا كَانَتْ تُسْتَحَاضُ فَقَالَ لَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ دَمُ الْحَيْضَةِ فَإِنَّهُ أَسْوَدُ يُعْرَفُ فَإِذَا كَانَ ذَلِكَ فَأَمْسِكِي عَنِ الصَّلَاةِ فَإِذَا كَانَ الْآخَرُ فَتَوَضَّئِي وَصَلِّي فَإِنَّمَا هُوَ عِرْقٌ

(Abu Dawud berkata) Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin al-Mutsannaa (ia berkata) telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abi Adiy dari Muhammad, yaitu bin ‘Amr ia berkata: telah menceritakan kepadaku Ibnu Syihab dari Urwah bin az-Zubair dari Fathimah bintu Abi Hubaisy bahwasanya ia mengalami istihadhah. Nabi shollallahu alaihi wasallam bersabda: Darah haid itu kehitaman sudah dikenal. Jika darahnya seperti itu janganlah melakukan sholat. Jika ciri darahnya tidak seperti itu, berwudhu’lah dan sholatlah karena itu adalah urat (yang terluka)(H.R Abu Dawud, dihasankan oleh Ibnul Arobiy dan dinyatakan sanadnya hasan oleh Syaikh al-Albaniy)

Seluruh perawi dalam riwayat hadits itu tsiqoh berada dalam standard perawi yang shahih, kecuali Muhammad bin ‘Amr (bin ‘Alqomah). Al-Imam adz-Dzahabiy menukil pendapat Ulama tentang dia:

وَقَالَ النَّسَائِي وَغَيْرُهُ لَيْسَ بِهِ بَأْس

an Nasaai dan Ulama lainnya menyatakan (tentang Muhammad bin ‘Amr): Ia tidak mengapa (al-Kaasyif fii Ma’rifati Man Lahu Riwaayah fil Kutubis Sittah no perawi 5087 (2/207))

Artinya, level kekokohan perawi tersebut tidak berada dalam tingkatan shahih, tapi pada level hasan. Ia juga masih berada di atas level lemah (dhaif). Setidaknya cukup satu perawi berada di level hasan sedangkan yang lain berada di level shahih untuk membawa hadits itu pada derajat hasan.

Hadits hasan dalam contoh ini memenuhi semua kriteria hadits shahih: sanadnya bersambung, perawinya adil dan kokoh dalam periwayatan, tidak syadz, tidak memiliki illat qodihah. Namun, ada satu perawi yang level kekokohan periwayatannya di bawah level perawi-perawi shahih dan di atas level perawi-perawi yang lemah.

Baca Juga : KRITERIA HADITS SHAHIH

(dikutip dari naskah buku “Mudah Memahami Ilmu Mustholah Hadits (Syarh Mandzhumah al-Baiquniyyah, Abu Utsman Kharisman)

Sumber : https://salafy.or.id/blog/2019/09/11/kajian-ilmu-mustholah-hadits-hadits-hasan/

KOMENTAR

BLOGGER
Nama

Adab-Akhlak,144,Akhirat,15,Akhwat,93,Aqidah,236,Arab Saudi,15,Asma wa Shifat,1,Audio,36,Bantahan,99,Bid'ah,44,Biografi,53,Cerita,35,Cinta,8,Dakwah,20,Doa Dzikir,36,Ebook,7,Fadhilah,58,Faedah Ringkas,17,Fatwa Ringkas,4,Fiqih,259,Ghaib,13,Hadits,117,Haji-Umroh,10,Hari Jumat,34,Hari Raya,3,Ibadah,49,Info,81,Inspiratif,34,IT,12,Janaiz,6,Kata Mutiara,130,Keluarga,150,Khawarij,22,Khutbah,3,Kisah,156,Kitab,1,Kontemporer,122,Manhaj,141,Muamalah,41,Nabi,8,Nasehat,416,Poster,7,Puasa,42,Qurban,20,Ramadhan,27,Rekaman,1,Remaja,110,Renungan,31,Ringkasan,92,Sahabat,37,Sehat,26,Sejarah,22,Serial,3,Shalat,117,Syiah,28,Syirik,3,Tafsir,31,Tanya Jawab,486,Tauhid,26,Tazkiyatun Nafs,77,Teman,14,Thaharah,17,Thallabul Ilmi,94,Tweet Ulama,6,Ulama,45,Ustadz Menjawab,6,Video,12,Zakat,3,
ltr
item
Atsar ID | Arsip Fawaid Salafy: Kriteria Hadits Hasan (Syarah Mandzumah al Baiquniyah)
Kriteria Hadits Hasan (Syarah Mandzumah al Baiquniyah)
Kriteria dan Syarat Hadits Hasan, Perbedaan Hadits Shahih dengan Hadits Hasan.
https://3.bp.blogspot.com/-JWMuWSHBr7U/XX1uSgK9zxI/AAAAAAAAOnU/wB1muLCa4KoElLvSD1-nLrGfdr-WUE3pgCK4BGAYYCw/s1600/kriteria%2Bhadits%2Bhasan.jpg
https://3.bp.blogspot.com/-JWMuWSHBr7U/XX1uSgK9zxI/AAAAAAAAOnU/wB1muLCa4KoElLvSD1-nLrGfdr-WUE3pgCK4BGAYYCw/s72-c/kriteria%2Bhadits%2Bhasan.jpg
Atsar ID | Arsip Fawaid Salafy
https://www.atsar.id/2019/09/kriteria-hadits-hasan.html
https://www.atsar.id/
https://www.atsar.id/
https://www.atsar.id/2019/09/kriteria-hadits-hasan.html
true
5378972177409243253
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts LIHAT SEMUA POST Selengkapnya Balas Batal Balas Hapus Oleh Beranda HALAMAN POSTS Lihat Semua BACA LAGI YUK LABEL ARSIP SEARCH ALL POSTS Al afwu, artikel tidak ditemukan Kembali ke Beranda Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Min Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nov Des baru saja 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 jam yang ago $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago lebih dari 5 pekan yang lalu Pengikut Ikut THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy