Kisah : Tatkala Prahara Menerpa

SHARE:

Kisah Santri Tatkala Terjadi Fitnah di Pondok Pesantrennya, Hijrah Menjauhi Fitnah.

Tatkala Prahara Menerpa

Kisah : Tatkala Prahara Menerpa
Merupakan nikmat yang sangat agung bisa menjalani thalabul ilmi, mempelajari ajaran Nabi Muhammad, sunah sunah dan adab serta akhlak beliau. Tentu nikmat ini tidak Allah berikan kepada sembarang orang. Hanya orang-orang yang Dia pilih yang mendapatkan nikmat ini. 

Namun, Allah juga pasti akan menguji hamba-Nya yang menjalani thalabul ilmi dengan berbagai fitnah. Seperti fitnah harta, wanita dan tahta. Dengan ujian ini Allah pun akan menampakan mana orang yang benar-benar serius keimanannya dan mana orang yang sekadar ikut-ikutan saja; sebagiannya hanya fanatik kepada ustadz atau pimpinannya saja. Semoga Allah menjaga kita semua diatas manhaj salaf yang lurus dan benar. 

Berikut ini ingin kuceritakan sekelumit kisahku dalam menuntut ilmu, semoga ada hikmah yang bisa ditarik darinya. 

Aku terlahir di tengah keluarga berkecukupan dalam harta namun terkadang lalai dalam perkara agama. Singkat cerita, Allah pun berkenan memberikan hidayah salaf di tengah keluargaku. Yang pertama mengenal salaf adalah ibuku. Ibu mengenal manhaj salaf ketika aku masih duduk di bangku kelas satu SDIT, sementara kakakku di kelas lima. 

Perkenalannya dengan manhaj salaf menjadikan umi (ibuku) berkeinginan untuk memasukkan aku dan kakak ke sebuah pondok salaf di kotaku. Alhamdulillah semua berjalan lancar sehingga aku dan kakakku pun mengenyam ilmu syar'i di pondok itu sedari usia SD. Abi (ayahku) pun kemudian menerima dakwah salaf dan rajin mengantar Jemput kami sekolah di pondok. 

Tak terasa lima tahun kemudian aku pun lulus dari jenjang setingkat SD yang di pondok tersebut dinamai Tarbiyatul Aulad. Aku pun antusias untuk meneruskan menuntut ilmu ke jenjang berikutnya di pondok tersebut. Jenjang berikutnya adalah program Tahfidzul Qur'an. Untuk jenjang ini, mungkin karena keterbatasan pondok, aku pun masih di antar-jemput. 

Di program tahfidz, aku masuk kelas mulai dari setelah salat Subuh sampai selesai sekitar jam 20.30. Jarak tempuh rumahku dan pondok sekitar 15 menit menggunakan motor. Begitulah kegiatanku setiap hari, berangkat pagi pulang malam. Memang cukup melelahkan. Masya Allah begitu besar juga pengorbanan abi yang antar-jemput setiap hari. Tentu itu semua didorong karena beliau ingin memiliki anak yang saleh. Semoga Allah memberi ganjaran yang besar untuk beliau. 

Setelah sekitar 1 bulan aku belajar tahfidz, abi dan umi berkeinginan untuk tinggal di sekitar pondok, agar aku tidak perlu antar-jemput. Setelah beberapa hari, alhamdulillah akhirnya Allah memberikan kemudahan. Kami mendapat rumah kontrakan di sekitar pondok. Dengan demikian aku bisa berangkat dan pulang belajar sendiri tanpa harus diantar jemput. 

Aku pun menikmati suasana belajar yang cukup semarak. Aku habiskan waktu dalam keseharian dengan menghafal Quran dan berhalaqah bersama teman-teman di masjid pondok. Kami membentuk halaqah-halaqah sesuai kelas masing-masing bersama ustadz pembimbing masing-masing. 

Hingga suatu hari... pada malam ba'da Isya', ustadz kami yang biasa mengecek (menegur jika kami bermain saat meraja'ah dan mengecek absensi) lewat di halaqah. Namun ada yang berbeda pada diri beliau. Beliau tak memedulikan kami. Tampak ada raut kesedihan dan galau di wajah beliau. Beliau tidak menegur sebagian kami bermain ketika muraja'ah dan tidak mengecek absensi kami. Kejadian ini bagi kami cukup mengherankan. 

Beliau yang biasanya begitu bersemangat dan perhatian dalam membimbing kami, hari itu seolah acuh tak acuh. Mungkin ada beban pikiran berat yang sedang menimpa beliau? Kegalauan kami berlanjut keesokan harinya. Pada saat jam pelajaran diniyyah, seperti biasa kami membuat halaqah di tiang masjid tempat ustadz kami biasa duduk mengajar.

Kami menyangka pada hari itu kami belajar seperti biasa. Namun setelah kami tunggu lama, ternyata ustadz tak kunjung datang. Dan hal ini terus terjadi selama beberapa hari, hingga membuat pikiran dan perasaan kami kacau tak menentu. Rasa sempit dan hawa musibah mulai menghinggapi hati kami. 

Tanda tanya dan galau di hati bertambah menjadi-jadi ketika beberapa hari setelah itu kami dikumpulkan oleh seorang ustadz yang lain. Beliau memberikan nasehat panjang lebar hingga berkata, "Bagian antum yang ingin meninggalkan pondok ini silakan, ustadz tidak melarang. Dan bagi yang masih ingin tetap disini banyak-banyak bertakwa." Seolah sebuah kata-kata perpisahan. Hatiku pun terus bertanya-tanya apa sebenarnya yang terjadi? Ada apa dengan pondok ini? 

Hari-hari berikutnya aku pun terus mencari tahu tentang apa yang terjadi sebenarnya. Aku bertanya ke sejumlah orang namun jawabannya berbeda-beda. Ada yang menyalahkan ustadz fulan, ada pula yang menyalahkan ustadz alan. Di rumah, abi menasehatiku agar tidak banyak bicara ketika di pondok. 

Pernah suatu saat aku dipanggil salah seorang santri yang lebih tua usianya dibandingkan diriku. Kemudian aku ditanyainya, "Menurutmu siapa yang salah? Si fulan atau si alan?" Aku balik bertanya, "Fulan siapa?" "Ya itu ustadz fulan! Masa kamu nggak tahu?" Intinya disitu rasa-rasanya aku seperti diberi syubhat olehnya. Seakan-akan salah satu ustadz kibar di Indonesia itu yang salah. 

Tidak lama setelah itu, tersebarlah berita pengunduran beberapa asatidzah termasuk ustadz halaqahku. Aku pun bertambah bingung, apa sebenarnya yang terjadi? Aku terus menyimpan pertanyaan itu hingga ketika di rumah ada perbincangan abi dan umi yang kusimak.

Awalnya aku dan kakakku tidak terlalu memperhatikan pembicaraan mereka. Namun, tatkala umi berbicara agak keras jadi menarik perhatian kami. "Ayo nak kita keluar dari pondok ini. Aku takut kalau terjadi apa-apa." kata Umi "Sabarlah kita juga baru pindah kesini, sabar." Namun umi tetap bersikeras untuk keluar dari lingkungan pondok. 

Akhirnya aku pun tahu bahwa pimpinan pondok kami ternyata telah berubah sikap. Beliau ingin menyendiri dalam berdakwah, tidak mau bermusyawarah dengan asatidzah ahlussunnah yang lain dan lain-lainnya dari perubahan-perubahan sikap beliau. Hmm... mungkin inilah yang menyebabkan beberapa ustadzku mengundurkan diri dari pondok. 

Demi menyelamatkan agama, kami memutuskan untuk keluar dari lingkungan pondok. Kami kembali ke rumah kami yang berjarak tempuh 15 menit dari pondok. Aku berhenti sekolah di pondok itu. Setelahnya aku hanya bisa menghabiskan waktu di rumah. Tak ayal lantas muncul rasa bosan dan rindu suasana belajar dari teman-teman.

Beberapa hari kemudian, aku mendengar beberapa santri akan pindah ke pondok di ibukota provinsi. Mendengar itu, abi pun mengajakku melihat kondisi pondok lama. 

Aku terhenyak dan tertegun sedih melihat pondokku itu. Sepi, senyap... seperti tak berpenghuni. Ada beberapa sisa santri yang mengungsi ke rumah salah seorang ikhwah yang terletak tepat di samping asrama. Aku pun diajak dan dimintai bantuan oleh salah seorang dari mereka untuk mengevakuasi barang-barangnya. Kondisi asrama sangat memprihatinkan. sampah berserakan dimana-mana sangat kotor. Beras dan kacang panjang berhamburan di dapur. 

Asrama sudah seperti gudang yang berisi barang-barang yang tidak layak pakai. Lemari-lemari yang tertinggal sudah rusak, potongan-potongan kardus dan tali berserakan di mana-mana. Kasur-kasur berhamburan hingga keluar asrama. Hmm... itu benar-benar seperti usai tertimpa sebuah bencana. Serba berantakan. 

Tampaknya sejarahku di pondok itu harus berakhir. Tidak berapa lama kemudian terdengar berita akan diselenggarakan dauroh (pengajian akbar) di ibukota provinsi oleh asatidzah ahlussunnah Indonesia. Abi mengajakku untuk menghadirinya bersama seorang ikhwah dan anaknya (temanku). 

Pondok pesantren ahlussunnah  ibukota provinsi, tidak seluas pondokku yang terkena prahara. Usai mengikuti daurah, tampaknya temanku berkeinginan untuk pindah belajar ke pondok tersebut. Namun karena belum persiapan, akhirnya dia pun ikut kami pulang ke rumah. Sementara itu, Abi juga berkeinginan memindahkan aku ke sana. 

Akhir bulan Oktober 2017 kami sekeluarga hijrah ke ibukota provinsi demi bisa tinggal di dekat lingkungan pondok ahlussunnah. Abi menyewa rumah tepat di depan pondok. Alhamdulillah aku pun bisa meneruskan belajar dengan resmi menjadi santri di pondok tersebut. Bahagia dan rasa syukur tiada terkira, Allah masih memberikan hidayah dan menyelamatkan keluargaku dari fitnah dan ujian ini. 

Kisahku masih berlanjut. Ternyata Allah takdirkan aku hanya setahun tinggal di ibukota provinsi. Setelah terima raport tahun berikutnya, abi merencanakan hijrah ke luar pulau. Sebagai anak tentu aku hanya ikut saja. Yang aku doakan semoga kami masih tetap di atas jalan-Nya yang lurus. 

Untuk hijrah ke luar pulau, kami terlebih dahulu transit di kota kelahiranku. Kota yang penuh kenangan tempat awalku menuntut ilmu di pondok yang terkena prahara. Rasanya sangat sedih meninggalkan kota ini. Bagaimanapun ini kota kelahiranku. Banyak kenangan yang tersimpan di sana. 

Tapi aku yakin akan janji Allah. Allah pasti akan menggantikannya dengan yang lebih baik. Meskipun harus melupakan kenangan manis bersama-sama teman seperjuangan dalam menuntut ilmu. Semua itu hilang karena prahara yang menerpa. Namun demikian, aku masih terus bersyukur akan nikmat-Nya. 

Kini aku menuntut ilmu di pulau seberang. Di sebuah pondok ahlussunnah di daerah yang sejuk. Bersama teman-temanku yang baru aku pun terhibur dan melupakan masa lalu. Aku berharap dikota ini aku menjadi lebih baik daripada yang dulu. Sekali lagi aku bersyukur karena Allah telah menyelamatkan aku dan keluargaku dari fitnah dan ujian agama. 

Aku pernah mendengar sebuah hadits yang maknanya, "Bahwa barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, pasti Allah akan menggantikan dengan yang lebih baik." Inilah sekelumit kisahku. Semoga bermanfaat.

Sumber: Majalah Qudwah edisi 71 hal 65 vol 06 1440H

KOMENTAR

BLOGGER
Nama

Adab-Akhlak,162,Akhirat,17,Akhwat,103,Aqidah,264,Arab Saudi,15,Asma wa Shifat,2,Audio,45,Bantahan,109,Bid'ah,54,Biografi,61,Cerita,41,Cinta,8,Dakwah,24,Doa Dzikir,42,Ebook,9,Fadhilah,63,Faedah Ringkas,17,Fatwa Ringkas,4,Fiqih,292,Ghaib,15,Hadits,144,Haji-Umroh,10,Hari Jumat,34,Hari Raya,3,Ibadah,50,Info,85,Inspiratif,36,IT,11,Janaiz,6,Kata Mutiara,134,Keluarga,164,Khawarij,22,Khutbah,4,Kisah,187,Kitab,1,Kontemporer,135,Manhaj,159,Muamalah,40,Nabi,10,Nasehat,461,Poster,7,Puasa,52,Qurban,20,Ramadhan,45,Rekaman,2,Remaja,119,Renungan,33,Ringkasan,97,Sahabat,46,Sehat,26,Sejarah,30,Serial,3,Shalat,131,Syiah,28,Syirik,7,Tafsir,34,Tanya Jawab,525,Tauhid,33,Tazkiyatun Nafs,90,Teman,15,Thaharah,18,Thallabul Ilmi,103,Tweet Ulama,6,Ulama,48,Ustadz Menjawab,11,Video,12,Zakat,9,
ltr
item
Atsar ID | Arsip Fawaid Salafy: Kisah : Tatkala Prahara Menerpa
Kisah : Tatkala Prahara Menerpa
Kisah Santri Tatkala Terjadi Fitnah di Pondok Pesantrennya, Hijrah Menjauhi Fitnah.
https://3.bp.blogspot.com/-lhi-AR6B1Fw/XjPQXylWo4I/AAAAAAAAPIo/whzkirYYwRkGpG3lVaJqJ6uJZPg-tmhwACK4BGAYYCw/s320/tatkala-prahara-menyapa.jpg
https://3.bp.blogspot.com/-lhi-AR6B1Fw/XjPQXylWo4I/AAAAAAAAPIo/whzkirYYwRkGpG3lVaJqJ6uJZPg-tmhwACK4BGAYYCw/s72-c/tatkala-prahara-menyapa.jpg
Atsar ID | Arsip Fawaid Salafy
https://www.atsar.id/2020/01/kisah-tatkala-prahara-menerpa.html
https://www.atsar.id/
https://www.atsar.id/
https://www.atsar.id/2020/01/kisah-tatkala-prahara-menerpa.html
true
5378972177409243253
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts LIHAT SEMUA POST Selengkapnya Balas Batal Balas Hapus Oleh Beranda HALAMAN POSTS Lihat Semua BACA LAGI YUK LABEL ARSIP SEARCH ALL POSTS Al afwu, artikel tidak ditemukan Kembali ke Beranda Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Min Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nov Des baru saja 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 jam yang ago $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago lebih dari 5 pekan yang lalu Pengikut Ikut THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy