Inti Sari Kitab Aqidah Wasithiyyah

SHARE:

Ringkasan Isi Resensi Kitab Aqidah Wasithiyyah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah

 INTI SARI KITAB AQIDAH WASITHIYYAH

Inti Sari Kitab Aqidah Wasithiyyah

• SIAPA SYAIKHUL ISLAM IBNU TAIMIYYAH?

“Beliau ialah alim, al-‘Allamah ‘yang sangat paham tentang agamaʼ, Syaikhul Islam, Taqiyyud-Din Ahmad bin Abdil Halim bin Abdis Salam bin Taimiyyah. Beliau lahir di Harran [sekarang masuk wilayah Turki] pada tanggal 10 Rabiʼul Awal tahun 661 H.

Keluarganya lalu berpindah ke Damaskus dan menetap di sana. Beliau ialah ulama besar dan tokoh yang memberikan pencerahan, pejuang di jalan Allah yang sangat populer. Beliau berjihad membela agama Allah dengan akal dan pikiran, dengan ilmu dan jasad. Argumentasi beliau kuat, sehingga tak seorang pun sanggup mematahkannya. 

Beliau tidak gentar terhadap celaan para pencela, jika telah terang kebenaran, tanpa ragu beliau menyuarakannya. Karena itulah, muncul beragam ujian dan siksaan dari para pemimpin dan tokoh di masanya, beliau dipenjara beberapa kali, bahkan beliau wafat dalam kondisi masih terpenjara di tahanan Damaskus pada tanggal 20 Syawwal tahun 728 H.”

📔 Syaikh al-‘Utsaimin, Mudzakirah ‘ala al-Aqidah al-Wasithiyyah hlm. 3 

• Lebih Dekat Mengenal Kitab al-Aqidah al-Wasithiyyah

“Al-Aqidah al-Wasithiyyah ialah kitab ringkas yang menghimpun aqidah Ahlussunnah Wal Jamaah seputar nama-nama dan sifat-sifat Allah; tentang iman kepada Allah dan hari akhir; dan yang terkait hal-hal tersebut, seputar sikap dan perbuatan Ahlussunnah. 

Sebab ditulisnya kitab ini ialah saat salah satu qadhi di Wasith [sekarang masuk wilayah Irak] mengadu kepada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah tentang banyaknya bid‘ah dan kesesatan di tengah manusia. 

Sehingga ia meminta kepada beliau untuk menuliskan suatu kitab aqidah ringkas yang menjelaskan tentang jalan Ahlussunnah Wal Jamaah yang terkait dengan nama-nama dan sifat-sifat Allah, dan lain-lain yang akan dijelaskan oleh beliau dalam kitab aqidah ini. Karenanya, kitab ini dinamakan dengan al-Aqidah al-Wasithiyyah.”

📔 Syaikh al-‘Utsaimin, Mudzakirah ‘ala al-Aqidah al-Wasithiyyah hlm. 4

• Siapa Ahlussunnah wal Jamaah? 

“Ahlussunnah Wal Jamaah ialah orang-orang yang berjalan di atas jalan Nabi Muhammad ﷺ dan para sahabatnya dalam keyakinan, ucapan, dan perbuatan. Mereka disebut dengan ‘Ahlussunnah Wal Jamaahʼ karena mereka berpegang teguh dengan sunnah dan bersatu di atas sunnah.”

📔 Syaikh al-‘Utsaimin, Mudzakirah ‘ala al-Aqidah al-Wasithiyyah hlm. 4

• Pokok Keyakinan Ahlussunnah wal Jamaah

“Prinsip keyakinan Ahlussunnah ialah beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, dan beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk. 

• Beriman kepada Allah artinya:

- meyakini keberadaan-Nya;

- rububiyah-Nya [bahwa Dia yang mencipta, mengatur alam semesta, memberi rezeki];

- uluhiyah-Nya [bahwa hanya Dia yang berhak disembah];

- serta nama-nama dan sifat-sifat-Nya. 

• Beriman kepada para malaikat artinya meyakini:

- bahwa mereka ada;

- membenarkan nama-nama mereka yang diketahui, seperti Jibril;

- beriman dengan sifat-sifat mereka yang sampai kepada kita, seperti sifat Jibril [yang memiliki 600 sayap, —pent];

- beriman dengan amalan dan tugas mereka, seperti Jibril yang tugasnya menurunkan wahyu, dan Malik yang bertugas menjaga neraka. 

• Beriman dengan kitab-kitab-Nya artinya:

- meyakini bahwa kitab-kitab tersebut berasal dari Allah;

- mempercayai semua berita yang ada di dalamnya;

- mengimani nama-namanya yang sampai kepada kita, seperti Taurat, sedangkan nama-nama kitab suci yang tidak diketahui, maka kita beriman secara global;

- dan menjalankan segala hukumnya yang belum dihapuskan.

• Beriman kepada para rasul artinya:

- Meyakini kejujuran mereka dalam menyampaikan ajaran dari Allah;

- mempercayai nama-nama mereka yang diterangkan (kepada kita), sedangkan nama-nama mereka yang tidak diketahui, maka kita beriman secara global;

- membenarkan segala yang mereka kabarkan;

- dan mengamalkan seluruh syariat mereka yang yang tidak dihapuskan. Seluruh syariat rasul terdahulu telah dihapuskan dan diganti dengan syariat Nabi Muhammad ﷺ. 

• Beriman dengan adanya hari akhir artinya meyakini seluruh peristiwa setelah kematian yang dikabarkan oleh Nabi Muhammad ﷺ benar-benar terjadi. 

• Beriman dengan takdir artinya meyakini bahwa segala peristiwa yang terjadi telah ditetapkan dan ditakdirkan oleh Allah.” 

📔 Syaikh al-‘Utsaimin, Mudzakirah ‘ala al-Aqidah al-Wasithiyyah hlm. 4-6

• Prinsip Ahlussunnah wal Jamaah Terhadap Nama dan Sifat-sifat Allah 

“Ahlussunnah dalam pembahasan nama dan sifat-sifat Allah adalah menetapkan seluruh nama dan sifat yang Allah tetapkan bagi diri-Nya di dalam Al-Qurʼan dan yang Dia tetapkan melalui lisan Rasul-Nya ﷺ; tanpa berbuat tahrif, taʼthil, takyif, dan tamtsil.

[1] - Tahrif

Tahrif secara bahasa artinya merubah. Dan secara istilah: Merubah lafazh dalil atau mengubah makna (sebenarnya). 

Contoh tahrif (merubah lafazh), ialah merubah firman Allah ta‘ala, 

وَكَلَّمَ اللّٰهُ مُوْسٰى تَكْلِيْمًاۚ  

“Dan kepada Musa, Allah berfirman langsung.” (Q.S. An-Nisaʼ: 164)

Lafazh (( اللّٰهُ )) diubah menjadi nashab [objek / اللَّهَ], sehingga maknanya pun berubah menjadi Nabi Musa berbicara kepada Allah, bukan Allah berfirman kepada Nabi Musa. 

Contoh tahrif dengan mengubah makna ialah merubah makna istiwa Allah di atas Arasy yang asalnya bermakna tinggi dan menetap; kepada makna “menguasai dan memiliki”, dengan maksud menolak makna istiwa yang sebenarnya. 

[2] - Taʼthil

Secara bahasa taʼthil artinya meninggalkan dan melepaskan. Sedangkan secara istilah, taʼthil ialah mengingkari nama-nama dan sifat Allah. 

Ada taʼthil secara menyeluruh, seperti perbuatan Jahmiyah; dan ada taʼthil juzʼiy (sebagian), seperti perbuatan al-Asy‘ariyyah yang hanya menetapkan tujuh sifat bagi Allah, terkumpul dalam perkataan mereka, ‘Hidup, ilmu, kuasa, dan firman-Nya — iradah (kehendak), mendengar, dan melihatʼ

[3 & 4] - Takyif dan Tamtsil; Serta Perbedaan Keduanya 

Takyif artinya menetapkan ‘bentukʼ suatu sifat Allah, seperti orang yang mengatakan, ‘Istiwa Allah di atas Arasy-Nya itu seperti ini!ʼ

Sedangkan tamtsil ialah menyamakan (sifat Allah) dengan sesuatu, seperti perkataan, ‘Tangan Allah seperti tangan manusiaʼ. 

Perbedaannya: Tamtsil ialah menyamakan sifat dengan sesuatu yang sama, sedangkan takyif ialah menyebutkan suatu sifat tanpa terkait dengan yang semakna. 

• Hukum Empat Perbuatan di Atas

Seluruhnya haram. Dan sebagiannya termasuk perbuatan kekafiran atau kesyirikan. Karena itulah, Ahlussunnah Wal Jamaah berlepas diri dari empat perbuatan tersebut.”

📔 Syaikh al-‘Utsaimin, Mudzakirah ‘ala al-Aqidah al-Wasithiyyah hlm. 6-7

• Jika Membaca Dalil Tentang Nama dan Sifat-sifat Allah 

“Wajib diyakini sesuai lahiriahnya; sekaligus menetapkan hakikatnya bagi Allah sesuai dengan keagungan-Nya. Hal ini didasari dengan dua alasan:

1. Memalingkannya dari lahiriah dalil berarti menyelisihi metode Nabi Muhammad ﷺ dan para sahabatnya. 

2. Mengarahkan maknanya sebagai majas sama dengan berbicara atas nama Allah tanpa ilmu; dan hukumnya haram.”

📔 Syaikh al-‘Utsaimin, Mudzakirah ‘ala al-Aqidah al-Wasithiyyah hlm. 8

Nama-nama Allah Tidak Terbatas

“Nama-nama Allah tidak terbatas dengan jumlah tertentu, berdasarkan doa yang diucapkan oleh Rasulullah ﷺ, 

أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ

‘Aku mohon kepada-Mu dengan perantara semua nama milik-Mu yang Engkau namakan sendiri, atau Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau Engkau ajarkan kepada seseorang dari hamba-Mu, atau Engkau rahasiakan dalam ilmu gaib di sisi-Mu.ʼ¹

Yang Allah rahasiakan dalam ilmu-Nya, maka tidak ada cara untuk membatasi dan mengetahui seluruhnya. 

Mengkompromikan riwayat ini dengan sabda Nabi Muhammad ﷺ yang lain,

إِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًا مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ

‘Allah mempunyai 99 nama, siapa yang meng-ihsha'nya, maka ia masuk surga.ʼ²

Makna hadits ini ialah ada 99 nama Allah yang memiliki kekhususan bagi orang yang meng-ihsha'nya akan masuk surga. 

Hal ini tidak menafikan bahwa Allah memiliki nama-nama yang lain di luar dari 99 nama tersebut. Sebagai perbandingan, seumpama engkau mengatakan ‘Aku memiliki 50 perisai yang ku siapkan untuk jihad.ʼ

Hal ini tentu tidak menafikan jika engkau masih memiliki perisai-perisai lainnya [yang bukan untuk jihad]. 

Makna -Ihshaʼ- terhadap nama-nama Allah ialah seseorang mengetahui lafazh dan maknanya; lalu beribadah kepada Allah dengan kandungannya.” 

¹ SHAHIH (Shahih at-Targhib, 1822) H.R. Ahmad (3712) dan al-Hakim (1/519). 

² H.R. Al-Bukhari (7392) dan Muslim (2677).

• Bagaimana Iman yang Sempurna dengan Nama-nama Allah? 

“Jika nama tersebut:

[1] Muta‘addi ‘memerlukan keberadaan objekʼ, maka iman yang sempurna dengan nama (Allah) tersebut ialah dengan:

- menetapkan nama itu;

- meyakini sifat yang dikandungnya;

- dan meyakini adanya atsar ‘konsekuensiʼ dari nama tersebut. 

Contohnya: Nama Allah (( الرَّحِيمُ / Yang Maha Penyayang )). Maka (iman yang sempurna dengan nama Allah ini) ialah:

- engkau menetapkan nama ((الرَّحِيمُ)) ini (sebagai nama Allah);

- meyakini sifat yang dikandungnya, yaitu kasih sayang;

- dan menetapkan konsekuensinya, yaitu Allah merahmati hamba-hamba-Nya dengan kasih sayang tersebut. 

[2] Lazim ‘tidak memerlukan objek/sasaranʼ, maka iman yang sempurna dengan nama (Allah) tersebut ialah dengan:

- menetapkan nama itu;

- dan meyakini sifat yang dikandungnya. 

Contohnya: Nama Allah (( الْحَيُّ / Yang Mahahidup )). Maka (iman yang sempurna dengan nama Allah ini) ialah:

- engkau menetapkan nama ((الْحَيُّ)) ini (sebagai nama Allah);

- meyakini sifat yang dikandungnya, yaitu kehidupan [yakin Allah Mahahidup, —pent].”

📔 Syaikh al-‘Utsaimin, Mudzakkirah ‘ala al-Aqidah al-Wasithiyyah hlm. 9-10

Insyaallah bersambung...

KOMENTAR

BLOGGER
Nama

Adab-Akhlak,174,Akhirat,17,Akhwat,105,Anti Teroris,2,Aqidah,271,Arab Saudi,16,Asma wa Shifat,2,Audio,45,Bantahan,110,Bid'ah,54,Biografi,64,Cerita,42,Cinta,8,Dakwah,28,Doa Dzikir,47,Ebook,9,Fadhilah,63,Faedah Ringkas,17,Fatwa Ringkas,4,Fiqih,304,Ghaib,15,Hadits,154,Haji-Umroh,10,Hari Jumat,34,Hari Raya,3,Ibadah,49,Info,85,Inspiratif,38,IT,11,Janaiz,6,Kata Mutiara,135,Keluarga,179,Khawarij,23,Khutbah,4,Kisah,214,Kitab,3,Kontemporer,141,Manhaj,163,Muamalah,43,Nabi,12,Nasehat,501,Poster,7,Puasa,54,Qurban,20,Ramadhan,48,Rekaman,2,Remaja,130,Renungan,51,Ringkasan,98,Sahabat,47,Sehat,26,Sejarah,36,Serial,3,Shalat,142,Syiah,28,Syirik,8,Tafsir,37,Tanya Jawab,557,Tauhid,37,Tazkiyatun Nafs,93,Teman,16,Thaharah,18,Thalabul Ilmi,104,Tweet Ulama,6,Ulama,53,Ustadz Menjawab,11,Video,12,Zakat,10,
ltr
item
Atsar ID | Arsip Fawaid Salafy: Inti Sari Kitab Aqidah Wasithiyyah
Inti Sari Kitab Aqidah Wasithiyyah
Ringkasan Isi Resensi Kitab Aqidah Wasithiyyah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
https://1.bp.blogspot.com/-JvRVdQStIOI/YU8gczHWX-I/AAAAAAAARTM/8SwWg_TpATQReI__kt2W0el1JjG0kjBIQCLcBGAsYHQ/w320-h213/inti%2Bsari%2Baqidah%2Bwasithiyah.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-JvRVdQStIOI/YU8gczHWX-I/AAAAAAAARTM/8SwWg_TpATQReI__kt2W0el1JjG0kjBIQCLcBGAsYHQ/s72-w320-c-h213/inti%2Bsari%2Baqidah%2Bwasithiyah.jpg
Atsar ID | Arsip Fawaid Salafy
https://www.atsar.id/2021/09/inti-sari-kitab-aqidah-wasithiyyah.html
https://www.atsar.id/
https://www.atsar.id/
https://www.atsar.id/2021/09/inti-sari-kitab-aqidah-wasithiyyah.html
true
5378972177409243253
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts LIHAT SEMUA POST Selengkapnya Balas Batal Balas Hapus Oleh Beranda HALAMAN POSTS Lihat Semua BACA LAGI YUK LABEL ARSIP SEARCH ALL POSTS Al afwu, artikel tidak ditemukan Kembali ke Beranda Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Min Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nov Des baru saja 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 jam yang ago $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago lebih dari 5 pekan yang lalu Pengikut Ikut THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy